Lisa yang Seksi.

Aku seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah PTS di Depok Jurusan Ilmu Komputer. Aku mempunyai pengalaman yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku mempunyai teman wanita yang dulu adalah temanku semasa SMU. Tidak terasa aku tidak pernah bertemu dengannya sudah 4 tahun. Hingga akhirnya dalam suatu acara reuni aku bertemu dengannya. Temanku sebut saja Vina, adalah seorang wanita karier yang lumayan mapan.

Berbeda dengan keadaanku yang belum mapan, sebenarnya aku merupakan anak dari keluarga yang berada. Tetapi aku pernah mengecewakan orangtuaku dalam hal prestasi semasa SMU dulu, sehingga aku diusir secara halus oleh orangtuaku. Aku tidak pernah lagi ditegur dan diberikan biaya hidup maupun kuliah. Tetapi dengan kegigihanku, aku berhasi melanjuntukan kuliah dengan biaya sendiri. Dan sampai saat ini aku mendapatkan penghasilan dari hasil kerja sambilan.

Sampai suatu ketika, aku mulai merintis usaha dan aku cuti kuliah 2 semester, pada mulanya usahaku lancar hingga suatu ketika aku ditipu oleh teman baik kakakku. Akhirnya aku bangkrut dengan dililit hutang yang lumayan besar. Hingga akhirnya aku memutuskan kuliah kembali sambil mencari pinjaman untuk membayar hutang-hutangku.

Aku juga menceritakan kesulitan hidupku kepada Vina, ia bejanji akan membantu kesulitanku jika ada kesempatan. Aku sangat terharu mendengar ketulusan hatinya yang mau membantuku. Hingga pada suatu kesempatan, ia meminta bantuanku dan jika bantuanku berhasil maka Vina pun akan memberikan bantuan untuk membayar hutang-hutangku. Maka aku pun mencoba untuk melaksanakan apapun yang ia inginkan.

Vina memberitahukan kepadaku bahwa ia dipercaya oleh perusahaannya untuk memenangkan tender. Kesulitan Vina, orang yang ingin di-loby-nya adalah seorang wanita paruh baya kira-kira umur 30-an, tetapi ia sangat dingin dan tegas. Setelah Vina mempelajari kelemahan wanita tersebut, akhirnya ia menemukan penyebab keangkuhan wanita tersebut. Ternyata ia belum berumah tangga, padahal ketika aku melihat foto wanita yang dimaksud, aku memberikan penilan bahwa wanita tersebut sangat cantik.

Bila dibandingkan dengan artis lokal, wajahnya mirip dengan Sofia Lacuba. Entah kenapa wanita secantik dia belum mempunyai suami. Kemudian aku bertanya kepada Vina, bantuan apa yang dapat kuberikan untuknya. Vina memintaku untuk merayu wanita tersebut agar luluh hatinya, sehingga ia mau memenangkan tender untuk perusahaan Vina. Aku berperan seolah-olah aku adalah partner Vina dalam mengurus tender tersebut. Aku pun menyanggupinya, walaupun aku belum tahu bagaimana caranya untuk meluluhkan hati wanita tersebut.

Pada suatu kesempatan, aku dikenalkan kepada wanita tersebut oleh Vina. Ia bernama Ibu Lisa. Tetapi entah kenapa, sejak pertama berkenalan hingga kami sedang makan siang, ia selalu menatapku dengan pandangan yang dalam. Sebagai laki-laki aku jadi gugup, apalagi dipandangi terus menerus oleh wanita secantik Ibu Lisa.

Setelah pertemuan tersebut aku sering berusaha mendekati Ibu Lisa untuk me-loby, hingga akhirnya kami bertemu untuk lunch. Aku mendapatkan cara, agar lebih familiar aku memanggilnya dengan sebutan Mbak Lisa. Aku menganggapnya sebagai kakakku, ternyata ia menyukai panggilan tersebut. Setelah beberapa kali aku sering bertemu denganya, akhirnya ia memintaku untuk bertemu malam Sabtu pada jam dinner di suatu restoran elite di Jakarta. Pada kesempatan ini ia yang mentraktirku.

Pada malam yang telah ditentukan, aku pergi sendiri menemuinya di restoran yang telah ditentukan. Aku mencari meja yang telah dipesan atas nama Lisa. Ketika aku menemukan meja tersebut dengan dibantu oleh pelayan restoran, aku sempat terdiam sejenak karena aku tidak menyangka bahwa Mbak Lisa yang biasanya kulihat dengan pakaian dan gaya yang selalu formal, pada malam itu ia terlihat menakjubkan. Ia mengenakan gaun hitam terusan ketat tanpa lengan dengan belahan dada yang sangat rendah, sehingga terlihat payudaranya yang sangat montok dan kencang. Aku jadi gugup melihat pemandangan yang sangat indah tersebut, sampai akhirnya kegugupanku buyar setelah ia menegurku dan mempersilakanku untuk duduk. Ia tersenyum ramah dan sedikit menggoda.

Dengan penerangan beberapa lilin dan sorotan lampu yang tepat mengenai seluruh tubuh Mbak Lisa, aku dapat melihat jelas lekukan tubuh di balik gaun malam yang ternyata tipis yang dikenakan oleh Mbak Lisa. Setelah aku dapat menguasai diri, aku mulai membuka percakapan dengan memuji keadaan Mbak Lisa yang sangat cantik dan menggoda. Sambil menyantap hidangan kami membicarakan hal-hal ringan. Tetapi ketika aku membicarakan mengenai pekerjaan, ia menyuruhku untuk melupakan sejenak mengenai pekerjaan. Mbak Lisa memberikan alasan bahwa pada malam ini ia ingin santai. Setelah selesai dinner, Mbak Lisa mengajakku pergi ke beberapa cafe di Jakarta.

Aku memperhatikan pada malam itu Mbak Lisa terlihat sangat enerjik dan seringkali berbuat manja kepadaku. Hingga pada pukul 12.30 malam, Mbak Lisa memintaku untuk mengantarnya pulang. Aku mengendarai kendaraan BMW terbaru milik Mbak Lisa menuju ke apartemennya di kawasan Selatan Jakarta. Setelah sampai di apartemennya dan berbincang sejenak, aku hendak pamitan untuk pulang. Tetapi Mbak Lisa menahanku dengan alasan ia ingin mandi dulu.

Kira-kira setengah jam kemudian ia selesai mandi dan telah mengenakan pakaian tidur dari sutra yang sangat tipis sekali. Ia menghampiriku dan memintaku untuk bermalam di apartemennya dengan alasan ia tidak dapat tidur dan ingin membicarakan mengenai pekerjaan. Aku menyetujui ajakannya karena aku berpikir ini demi kelancaran rencanaku. Kemudian ia menyuruhku mandi dengan air hangat dan memberikan kaos dan training untuk pakaian tidurku.

Setelah aku mandi, kira-kira pukul 2 malam kami mulai membicarakan mengenai pekerjaan. Tetapi aku tidak konsentrasi karena pikiranku terganggu pandangan indah di depanku. Hingga pada suatu kesempatan, ketika ia sedikit menunduk untuk merapihkan berkas-berkas kerja, aku melihat sepasang payudaranya yang putih mulus serta montok tergantung tanpa ada yang menyangganya. Hal itu berlangsung cukup lama, dan terasa olehku kemaluanku berdiri tegak karena pemandangan indah tersebut.

Tanpa kuduga, ternyata Mbak Lisa memperhatikan perbuatanku dan ia menegurku, “Sony kamu kenapa, kok melongo..?”
Sontak saja aku terkejut dan dengan spontan aku jawab dengan tidak sadar, “Mbak Lisa body-nya sexy sekali..”
Mendengar jawabanku Mbak Lisa bukannya marah, malahan ia mendekatiku dan menarik tanganku untuk diletakkan di atas payudaranya. Karena aku sudah bernafsu, kemudian kuremas-remas payudaranya dengan kedua tangannku, dan aku dekatkan bibir untuk melumat bibir Mbak Lisa yang merekah merah menantang. Dengan sigap ia menarik kepalaku. Kami berciuman dan saling meremas dengan penuh gairah.

Kemudian Mbak Lisa menarikku menuju tempat tidurnya, dan membuka seluruh celanaku. Ia sangat antusias sekali melihat rudalku yang sudah siap terbang.
“Sony, punyamu besar sekali, sudah lama aku nggak pernah lihat kemaluan laki-laki.”
Aku bertanya balik, “Memangnya Mbak Lisa nggak punya pacar..?”
Ia menjawab, “Aku sudah lima tahun tidak punya pacar, dan pacarku tidak mempunyai rudal panjang dan besar seperti milikmu. Sony boleh nggak aku mengulum rudalmu..?”
“Oh.., terserah Mbak aja deh..,” jawabku dengan penuh gairah.

Mbak Lisa mulai menjilat dan mengulum rudalku dengan posisi ia duduk di tepi ranjang, sedangkan aku berdiri di hadapannya. Setelah puas, kemudian ia membuka seluruh pakainnya, dan aku pun berbuat sama. Kini kami sama-sama telanjang bulat.

Kini giliranku yang menjilat dan menciumi payudaranya yang montok. Ia mengerang pelan menahan geli dan nikmat. Tidak ada satu sentipun tubuh Mbak Lisa yang kulewati. Ketika aku mulai memasukan jari-jari tanganku, ia mulai kelojotan. Apalagi waktu aku menciumi vaginanya dan menjilati bagian klitorisnya, ia mulai mengerang keenakan, sampai-sampai bulu-bulu halus di tubuhnya merinding.

Setelah cukup lama kami foreplay, ia memintaku untuk segera memasukkan rudalku ke dalam vaginanya.
“Sony.., cepetan masukin barangmu..! Aku sudah nggak tahan nih.. sshh..” kembali ia memohon kepadaku.
Aku pun mengambil ancang-ancang untuk menembakkan ‘rudal scud’ ke dalam ‘bunker’ milik Mbak Lisa. Mba Lisa membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku dapat melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot. Tidak menunggu lama, aku mulai mengarahkan rudalku ke dalam vagina Mbak Lisa. Begitu masuk dengan susah payah, Mbak Lisa menarik pantatku agar seluruh rudalku amblas ke dalam ‘bunker’-nya.

Aku menaik-turunkan pantatku dengan irama tidak terlalu cepat, sedangkan Mbak Lisa menggoyang pinggulnya sehingga kami merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Sambil memainkan rudalku, aku juga mengulum dan menjilat-jilat payudara serta puting susu Mbak Lisa. Sesekali bibir kami saling berpagutan, dan diselingi ciumanku ke arah lehernya yang putih.

Setelah kira-kira 20 menit kami saling melancarkan serangan yang bertubi-tubi, akhirnya aku menembakkan spermaku dengan muncratan yang kencang. Mbak Lisa yang merasakan tembakan air mani yang panas di dalam vagina, menjerit puas. Kemudian aku pun merasakan lubang vagina Mbak Lisa mengeluarkan cairan lengket yang membasahi rudalku. Aku perhatikan Mbak Lisa sampai mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang sambil menekan erat-erat pantatku, karena ia menikmati permainan seks yang sudah lama tidak ia rasakan. Kami melakukan seks tersebut berulang-ulang sampai tubuh kami lemas, dan kami tertidur saling berpelukan.

Sejak saat itu kami resmi menjadi pacaran dan sering melakukan seks kapanpun kami inginkan. Sedangkan tendernya Vina akhirnya dimenangkan oleh Mbak Lisa. Dan aku sekarang ketagihan ngeseks dengan wanita-wanita cantik yang kesepian yang usianya di atasku. Aku melakukan itu karena aku butuh bantuan wanita-wanita tersebut. Tetapi aku tetap memilih wanita-wanita yang kutiduri.

Karena selain membutuhkan bantuannya, aku juga mempunyai selara tinggi terhadap wanita. Oya, aku juga menjadi sangat akrab dengan Vina, kami sering melakukan hubungan seks yang tentunya tanpa diketahui oleh pacar Vina dan Mbak Lisa. Dan pengalamn ngeseksku dengan Vina tidak kalah hot-nya dengan yang kulakukan bersama Mbak Lisa. Bila nanti ada kesempatan, aku akan menceritakan pengalaman ngeseksku dengan Vina.

Incoming search terms: