Lasmi pelayanku sayang
Satu minggu setelah tante Lusi balik ke Manado, aku mulai merasakan kesepian. Tante Lusi meninggalkan kenangan manis untukku, tapi tante Lusi juga meninggalkan sesuatu dalam diriku, keinginan untuk berhubungan sex. Aku merasa ketagihan, aku mulai merasakan mupeng di kepalaku. Sebagai penyaluran sementara aku kembali beronani ria, tapi itupun tak bertahan lama. Aku semakin mupeng, sedangkan untuk coba-coba jajan di luar aku tak berani, aku merasa ngeri kalau-kalau terjangkit penyakit kelamin. Akhirnya, ya.. onani lagi.. onani lagi…
Selain bik Iyah, aku punya pembantu wanita lainnya. Lasmi namanya. Dia berasal dari Pangalengan, sebuah kota kecil di arah Selatan Bandung.
Selama ini aku tak pernah memperhatikan Lasmi dengan seksama. Aku kurang tertarik mengamati wanita di level pembantu, barangkali karena hallo efectnya, sehingga aku selalu apriori dan memandang rendah kecantikan pembantu. Sebenarnya aku sering mendengar komentar teman-temanku tentang Lasmi.
“Gile, Ton….. lu punya pembantu oke banget, tuh….!”, demikian kata-kata ungkapan yang pernah diucapkan si Edo, Januar, Robby, Donny, Indra, Johny dan entah siapa lagi, pokoknya yang pernah datang ke rumahku. Aku hampir tak pernah menggubris kicauan mereka, karena kupikir mereka rata-rata mata keranjang sehingga siapapun mungkin bagi mereka akan nampak cantik. Hal lain yang mengabaikan pandanganku adalah pertama cara Lasmi berdandan atau berpenampilan. Rambut bagian depan sering terurai menutupi wajahnya, sehingga memberikan pandangan rupa yang kurang jelas kepadaku. Kedua, pakaian yang dikenakannya selalu longgar dan dan panjang, serta tak pernah membentuk atau memancarkan lekuk-lekuk tubuhnya, sehingga tidak ada nilai seksinya di mataku. Hal-hal demikianlah agaknya yang menyebabkan diriku memandang Lasmi sebelah mata.
Kali ini pandangan itu berubah sama sekali. Hal tersebut mungkin juga diawali karena mupengku selama ini, yang kemudian menggugah kembali komentar-komentar teman-temanku tentang Lasmi dan mendorongku untuk mencoba lebih memperhatikan Lasmi.
Pendekatan pertama, aku mencoba bersikap lebih akrab dengan Lasmi. Setiap kali selesai melayaniku, biasanya membelikanku rokok, membuatkanku kopi atau mengirimkan sarapan atau makanan ke kamarku, aku mencoba menahannya sejenak dengan mengajaknya bercakap-cakap atau menanyakan perihal dirinya sedikit demi sedikit, pokoknya mencoba untuk bersikap akrab. Berbagai macam trik sudah siap kupergunakan.
Pada waktu aku penasaran dengan raut wajahnya, aku coba memancingnya : “Teh, di deket kelopak mata teteh ada apa, sih? Item-item kayak kotoran..”
Mau tidak mau Lasmi menyingkirkan rambut yang tergerai menutupi mukanya. “Alamak… memang cantik nian dikau….!”, suara batinku manakala aku bisa melihat dengan jelas raut wajahnya. Sejenak aku terpesona dan diam sesaat….
“Sebelah mana, den..?”, tanyanya penasaran. Kelingkingnya siap mengucek kelopan matanya.
Aku sedikit kaget dan segera menahan tangannya mencegah dia menorehkan kelingkingnya. “Sebentar…..!”, kataku. Aku kemudian mencoba menorehkan tanganku seolah-olah hendak menyapu kotoran di matanya yang sebenarnya tidak ada. Sebaliknya aku mencoba mengotorinya dengan menempelkan sedikit tahi tinta yang sebelumnya telah kutempelkan di jari kelingkingku. Setelah tinta itu menempel, aku segera menarik tanganku.
“Wah, susah banget sih …..!”, kataku berpura-pura. “Kamu aja yang ngambil…!”. Kemudian kutarik tangannya dan kupegang jari kelingkingnya dan kudekatkan pada bagian kelopak matanya yang telah kukotori tadi, kucoba untuk membersihkannya. Dengan caraku ini aku bisa merasakan tangannya yang halus lembut, bisa kulihat alis matanya yang bak semut beriring, matanya yang ternyata mbelalak indah, hidung bangir dengan bibir yang sensual. Pada saat wajahku mendekati wajahnya, tercium nafas harum yang keluar dari mulutnya.
“Nah, dapat..!”, kataku sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang menampakkan noda hitam setelah kuusapkan pada bagian kelopak matanya. Wajahnya nampak berseri senang, dan disitu kulihat putih giginya yang tampak terawat.
“Terimakasih, den…. Permisi..!”, katanya sambil pamit keluar dari kamarku.
Beberapa lama aku membayangkan wajah Lasmi tadi. Aku berpikir betapa piciknya penilaianku terhadap seseorang.
Lain ketika aku mencoba memancingnya kembali dengan akalku, yaitu pada saat dia memberikan rokok dan uang kembaliannya kepadaku, aku menjatuhkan uang lima ratusan. Secara refleks Lasmi segera memungut uang tersebut, dan sekilas aku memandang ke arah belahan dadanya pada saat dia membungkuk. Kulihat bulatan yang menantang seakan-akan hendak keluar karena BH yang dikenakannya tidak sesuai ukurannya dan tidak menunjang payudaranya. Entah BH yang kekecilan atau payudara yang kegedean.
“Umak aii……..!”, sesaat hatiku berdecak kagum dan jantungku berdegup tidak karuan.
“Ini, den….!”, katanya seraya mengembalikan uang yang kujatuhkan tadi.
“Oya..ya.. terima kasih Lasmi…!”, aku membalas dengan sedikit grogi. Aku berusaha tersenyum, dan dia segera pamit keluar kamarku.
Sejak saat itu aku baru membenarkan ucapan-ucapan teman-temanku tentang Lasmi. Selanjutnya aku semakin penasaran dan ingin melihat Lasmi secara utuh. Aku mencoba mencari akal bagaimana caranya aku bisa memenuhi keinginanku itu, kalau perlu hasratku.
Itu tidak gampang, aku harus bermain dengan strategi pendekatan. Aku semakin gencar berusaha untuk bisa lebih dekat dengannya. Aku mulai memberi perhatian lebih dan kian serinng mencandainya dari hal-hal yang ringan hingga ke hal-hal yang sedikit ngesek.
Usahaku tidak sia-sia, sedikit demi sedikit Lasmi mulai tidak sungkan memulai canda denganku, dari hal-hal yang sederhana sampai dengan yang rada-rada ngesek, bahkan hal-hal yang sifatnya pribadipun sudah mulai bisa kukorek. Ternyata Lasmi itu seorang janda tanpa anak Dia dinikah paksa pada saat usia 16 dengan lelaki yang telah berumur, karena orang tuanya mempunyai sangkutan utang piutang dengan lelaki tersebut yang ternyata adalah seorang rentenir. Orang tua Lasmi tidak mampu lagi membayar hutang-hutangnya, sehingga dengan terpaksa menyerahkan Lasmi kepada rentenir tersebut untuk dinikahi menjadi istri keempatnya sebagai persyaratan pelunasan hutangnya. Namun tidak sampai setahun usia pernikahan Lasmi, suaminya meninggal karena serangan jantung saat bermalam di rumah istri pertamanya. Alhasil Lasmi menjadi janda muda tanpa anak. Banyak kemudian lelaki yang mencoba mendekatinya, termasuk di antaranya adalah anak lelaki tertua mantan suaminya. Gile bener…! Mau melanjutkan kepemilikan sang ayah. Tak segan-segan dia menjegal lelaki-lelaki saingannya yang hendak mendekati Lasmi dengan cara kasar, sehingga banyak yang akhirnya mundur teratur. Lasmi tentu saja menolak mentah-mentah keinginan lelaki tersebut yang masih terhitung sebagai anak tirinya. Tapi rupanya cinta dan nafsu mengalahkan segalanya, si anak berusaha sekuat tenaga untuk terus memaksa menikahi ibu tirinya. Akhirnya, karena tak tahan dengan usaha-usaha itu, Lasmi ikut bik Iyah bekerja di rumahku sebagai upaya menjauhi permasalahan tersebut. Yach… ternyata unik juga permasalahan Lasmi.
Ide atas keinginanku untuk melihat Lasmi secara utuh akhirnya kuperoleh. Di rumahku ada empat kamar mandi, masing-masing tiga kamar mandi dalam yang ada di kamar ayah dan ibuku, di kamar Nella adikku, dan di kamarku sendiri. Satu lagi kamar mandi yang terletak di belakang dekat dapur, yang biasa digunakan oleh bik Iyah dan Teh Lasmi serta yang lainnya. Aku berusaha memancing bagaimana caranya Lasmi bisa mandi di kamarku. Pada hari Minggu, Ayah, ibu dan Nella biasanya jogging, setelah itu berenang di rumah kami yang satunya yang sementara ini kosong. Biasanya mereka baru kembali ke rumah pukul 11.00. Setelah kuperhatikan, di hari Minggu Lasmi biasanya mandi sekitar pukul sembilan setelah selesai membereskan pekerjaan rumah, antara lain menguras bak mandi. Saat itulah aku yang biasanya selalu rajin dan berenang, aku sengaja tidak ikut. Pada saat pagi-pagi, setelah kupenuhi bak mandiku terlebih dahulu, aku mermutus kabel jetpump di rumahku, sehingga air tidak keluar. Lasmi kelabakan karena air mati, sementara dia tengah menguras bak mandinya. Alhasil dia berusaha mencari-cari air bagaimana caranya dia bisa mandi. Aku segera memanfaatkan keadaan tersebut.
“Ada apa Lasmi, kok kayak orang linglung gitu ?”, tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Anu, den… airnya kok mati, padahal saya lagi nguras bak mandi. Yang lain sih kebetulan sudah pada mandi. Tinggal saya den yang belum mandi… Di tempat non Nella juga kosong airnya. Kemana saya harus mandi?”, Lasmi tampak kebingungan.
“Di kamar saya aja, kebetulan air baknya penuh!”, kataku pura-pura berbaik hati.
“Atuh saya jadi malu, den….!”, katanya sedikit ragu.
“Malu gimana sih, emangnya saya ikut mandi apa, pake malu-malu segala…”, aku sedikit menggoda.
Lasmi sedikit tersipu, “Ih, aden cunihin…! Bukan itu maksud saya… tapi saya nggak biasa mandi di tempat aden… Bingung makenya, den… habis perabotnya aneh-aneh…. Malah-malah saya nanti nggak bisa mandi…!”
Untuk meyakinkan aku segera menarik tangan Lasmi dan mengajaknya menuju kamar mandi dalam kamarku.
“Niih…, biasa aja… tinggal dikocorin…. Kalo bingung nanti saya ajarin.. tenang aja… kalau perlu kamu saya yang mandiin… pokoknya dijamin bersih dan saya pasti rido..!”, kataku sedikit kurang ajar.
Lasmi menjulurkan tangannya hendak mencubitku, tapi aku segera menangkap dan memegang tangannya. Lasmi sedikit meronta berusaha melepaskan tangannya, tapi aku menahannya cukup kuat.
“Deenn… lepasin, dong…”, pintanya memelas manja.
“Boleh, tapi …..”
“Tapi apa…?”, sela Lasmi penasaran
“Cepek dulu dan ini….!”, kataku sambil menunjuk-nunjukkan jari telunjukku ke arah pipiku, maksudku minta sun di pipi..
“Ih… dasar pak Ogah cunihin….nggak mau, ah!”, pipi Lasmi sedikit memerah dan berusaha kembali menarik tangannya.
“Eeiiiitt……”, aku tetap menahan tangannya. “Ini dulu baru itu ……”, kataku mengikuti iklan Dancow seraya mengulangi isyarat tadi.
Pipi Lasmi semakin memerah, “Malu den ach…..!”
“Nggak…, pokoknya……!”
“Ih….. aden mah maksa…!”
“Biarin…..!”
“Deenn…..!”
“Lasmii….!”
“Tapi adennya merem, ya… jangan ngeliatin saya…”, katanya malu-malu.
“Janji…..”, kataku sambil memejamkan mata.Perlahan-lahan aku mulai merasakan bibir Lasmi mulai mendekati pipiku. Ini kurasakan dari nafasnya yang terasa memburu, mungkin karena saking gugupnya. Begitu bibir Lasmi hendak menyentuh pipiku, aku mengarahkan wajahku menyambut bibirnya dengan bibirku.
“Cupp…….”, kurasakan kecupan bibir Lasmi mendaraat di bibirku bukan di pipiku. Tentu saja dengan tingkahku itu Lasmi kaget bukan kepalang.
“Aden curang….aden bohong…!’, seraya menarik tangannya kemudian memukul-mukulkannya ke dadaku.”Ih… dasar cunihin..!”, katanya gemas.
Aku kembali menangkap dan menarik kedua tangannya kemudian merengkuhkan tubuhnya di dadaku seraya kutatap matanya.
“Denn… apaan sich….?”, Lasmi bertanya dengan salah tingkah.
Pikiranku entah kemana, aku tak menjawab pertanyaan Lasmi, tapi dengan berani langsung kukecup bibirnya, kemudian kulumat. Mula-mula Lasmi bengong diam saja, namun sedikit demi sedkit mulutnya mulai membuka dan manakala lidahku menerobos dia juga menyambut dengan pilinan lidahnya. Rupanya Lasmi juga memendam perasaan yang sama seperti perasaanku kepadanya. Lama kami berkutat, saling memilin, saling menghisap, sementara tanganku mulai merambah kemana-mana sampai kemudian Lasmi menarik wajahnya melepaskan ciumanku dengan napas terengah-engah kecapean.
“Sudah ah, deen… saya jadi nggak jadi mandi…!”, katanya seraya hendak bangkit.
Aku tak menggubris ucapannya, tapi menarik kembali tubuhnya dan merengkuhkanya di dadaku kemudian kulumat kembali bibirnya. Kembali kami saling berpagut seperti burung merpati. Sementara bibirku menikmati bibirnya, tanganku bermain lincah kesana-kemari.
“Adeenn, aahh….. geli den…!”, rintih Lasmi menggelinjang, kegelian tapi juga nikmat.
Mendengar rintihan Lasmi, bukannya aku menghentikan permainan, tapi malah semakin bernafsu.
“Deeenn…….!”, Lasmi kembali merintih
“Lasmi sayang……”
“Mmmh………….”
“Katanya mau mandi……”
“Habiss…. aden juga sih, godain saya…”,
“Kita mandi bareng aja, sayangg….”,
“Nggak mau, ach……”
“Lasmi…. ayo sayaang…..!”, aku terus merayunya.
“Nanti kalau bik Iyah nyariin, gimana…”, jawab Lasmi ragu.
“Dia nggak bakalan berani nyari ke kamarku … Ayo, Lasmi……”
“Lasmi malu, ach….!”
“Gini aja, Lasmi mandi dulu sendiri….. nanti aku nyusul. Tapi pintu jangan dikunci.. Aku mau keluar dulu pura-pura nanyain Lasmi ke bik Iyah, biar nggak curiga….”, kataku sambil melepaskan pelukanku.
“Tapi den…”, Lasmi masih menampakkan keraguan.
“Udah, nggak apa-apa…!”, kataku menyakinkan.Sebelum aku meninggalkan Lasmi di kamar mandiku aku memberikan sedikit pengarahan cara-cara mandi. Saat itu aku tidak benar-benar menemui bik Iyah, tapi aku mempersiapkan segalanya untuk melihat striptease yang akan segera muncul di layar monitor pribadiku. Di kamar mandiku aku telah mempersiapkan set kamera yang kusambungkan layar monitor dan komputerku. Aku bisa merekam dan mengedit sesuka hatiku seperti kulakukan sebelumnya pada tante Lusi pada saat dia mandi di kamar mandiku. Sekarang hal ini akan kulakukan pada Lasmi.
Pertunjukan itu berlangsung sempurna dan aku tidak mau melewatkan sedetikpun scene yang berlangsung. Aku betul-betul menikmati pemandangan indah di layar monitorku. Setiap gerakan Lasmi nampak begitu sensual, sejak saat melepas satu per satu pakaiannya hingga saat dia menggosok-gosokkan sabun ke bagian-bagian vitalnya. Aku melihat Lasmi tidak hanya sekedar menggosok-gosokkan tetapi nampaknya dia menikmati momen-momen tersebut, mungkin juga meresapi bagaimana dia tadi bercumbu denganku. Aku makin terpaku dengan gaya dia mandi dan kemolekan tubuhnya yang nyaris tanpa cacat.Pertunjukan belum setengah jalan, tetapi melihat casting Lasmi mandi membuatku mupeng berat dan rudalku tegang bukan main. Aku sungguh tak sabar, setelah melucuti seluruh pakaianku aku siap memasuki kamar mandi. Aku mencoba membuka pintu kamar mandi secara perlahan, ternyata Lasmi mengikuti permintaanku untuk tidak menguncinya. Aku masuk diam-diam. Karena saking asyiknya mandi dengan shower dan suara gemericik air, Lasmi tidak menyadari kehadiranku. Dia baru merasa terkejut ketika tiba-tiba aku memeluknya dari belakang. Mungkin dia akan menjerit seandainya aku tidak segera memberi isyarat.
“Sssttt…..ini aku, sayaangg….”, aku menenangkan.
Lasmi mencubit keras-keras tanganku hingga aku mengaduh.
“Bikin Lasmi kaget aja…..”, katanya dengan suara perlahan.
Dalam siraman shower, kukecup lehernya, kuping dan pipinya. Tangan kiriku meremas halus bulatan dan puting payudara kirinya, sementara tangan kananku mengarah ke bawah mencoba menyeruak ke dalam veginya. Peniku yang menegang mendesel-desel diantara dua bulatan bokongnya.
Lasmi menggelinjang kegelian seraya mendesah, “Den Antooon…… geli, aahh……!”
Aku mematikan shower, lalu kubalikkan tubuh Lasmi dan langsung melumat bibirnya, tanganku meremas-remas kedua pantatnya yang membusung segar. Lasmi memeluk erat leherku dan dengan nafas menderu membalas lumatan bibirku dengan gairah.
Ciumanku sedikit demi sedikit bergeser ke bawah, ke lehernya yang jenjang kemudian berhenti sejenak di sekitar puting payudaranya. Lidahku bermain lincah, menyentuh, mengelus dan menghisap di keranuman puting tersebut hingga nampak mengencang.
“Deenn……”, Lasmi mengerang. Tangannya meremas rambut di kepalaku dan semakin membenamkan mukaku di payudaranya.
Setelah puas bermain di bagian atas, aku menyusuri ke bawah ke arah perutnya, kujilati udelnya hingga dia kegelian, kemudian aku turun lebih bawah lagi sampai kutemui lembah hitam dengan belahan di tengahnya. Saat hendak kucium Lasmi mencoba menahan kepalaku dan menutup belahan vegi dengan tangannya, kemudian menengadahkan kepalaku seraya bertanya, “Den Anton, nggak jijik…?”
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku, selanjutnya kusingkirkan tangan Lasmi yang menutupi belahan veginya. Aku meneruskan niatku yang tertahan tadi. Lidahku menyeruak ke dalam, kumainkan lidahku dengan penuh perasaan di daerah labianya.
Gelinjangan Lasmi semakin tidak karuan manakala lidahku masuk lebih dalam di veginya dan menyentuh klitorisnya, hingga tanpa disadari pinggulnya ikut berputar.
“Auughh…..den… uh…. den…. ih…. den….”, Lasmi melenguh seakan-akan merasakan kegelian dan kenikmatan yang amat sangat.
Selagi asyik-asyiknya Lasmi menikmati permainanku, aku tiba-tiba menghentikan aksiku.
“Den…kok…?!”, kata Lasmi seraya menatapku heran dan sepertinya kecewa.
“Aku udah nggak tahan… sayaangg…!”, kataku sambil memepet Lasmi merapat ke dinding, kamudian aku memegang belakang lutut kaki kirinya dan mengangkatnya. Dengan posisi ini kemaluan Lasmi sedikit terbuka lebar. Aku mengelus-eluskan tanganku di belahannya yang kurasakan sudah demikian basah. Aku kemudian menarik tangan kirinya dan memegangkannya ke peniku. Mulanya dia ragu tapi tanganku membantu mengeratkan genggamannya di peniku.
“Gimana, sayaang….?”
“Punya aden keras banget dan……”, Lasmi ragu mau melanjutnya ucapannya.
“Dan apa ?”
“Eee….gedee….”, katanya malu-malu.
“Aku udah nggak tahan… boleh dong dimasukin…?”
“Terserah aden….”, Lasmi pasrah.
Aku meminta Lasmi tetap memegang peniku dan agar mengarahkannya ke ke lubang sasaran.
“Den Anton…… aach….. pelan-pelan ya den….”, pintanya sambil meringis manakala peniku mulai menyelusup ke lubang veginya. Aku merasakan sedikit seret. Aku tidak memaksakan diri, tapi kucoba untuk mendorongnya secara perlahan-lahan. Hal ini mungkin karena Lasmi lama tidak berhubungan sex, kurang lebih dua tahun setelah suaminya meninggal dulu.
“Sleep…blesss….”, akhirnya peniku berhasil menerobos masuk ke dalam veni Lasmi.
“Aauuw…….”, tanpa sadar Lasmi menjerit lirih.
Kutahan sejenak peniku dan kutatap wajah Lasmi. Ia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Kutarik peniku perlahan, kudorong lagi, kutarik lagi sampai kemudian aku melakukan genjotan yang stabil. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Terasa ada pijitan lunak dan halus yang menghisap-hisap. Kulihat Lasmi matanya merem melek sementara bibir bagian bawah semakin sering digigit-gigitnya. Sesekali terdengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya. Kadang-kadang dia menggigit-gigit sekitar puting dadaku.
“Adeeenn…….”
“Kenapa sayang….?”
“Ka..kayak ada yang ma..mau keluar dari anunya Lasmi, den…. geli…. gatal…… nggak ka…. karuan ra…rasanya…. den…. To..tolong Lasmi, dooong……”, desah Lasmi tergagap-gagap.
“Tapi enak, nggaaakkk…?”, tanyaku.
“He…eehh….”
“Lasmi, jangan ditahan…… biarin lepas…!”
“Auughh… tambah nggak karuan rasanya, den.. Lasmi nggak tahan………!”
Aku membantu posisi Lasmi dengan mengangkat kedua kakinya sekaligus dengan daya di tanganku dan sandaran tubuhnya ke dinding. Memang perlu tenaga yang lebih ekstra dariku, tapi aku menjadi lebih leluasa melakukan genjotan-genjotan. Sementara itu aku juga mulai merasakan sesuatu yang mendesak-desak keluar.
“Lasmi sayaang, A..a..aku juga sudah nggak tahaaann….!”
Frekwensi genjotanku semakin kencang dan kurasakan Lasmi semakin kuat memelukku dan menghentak-hentakkan panggulnya mengimbangi genjotanku. Aku dan Lasmi makin beringas, saling melumat bibir, menjlat, menggigit-gigit kecil apa yang bisa digigit.
Aku merasakan Lasmi akan segera mencapai orgasme.
“Aughh aden sayaang…!”, erangnya. Matanya mendelik dan veginya terasa menjepit semakin kuat. Puncaknya, Lasmi mendorong kuat pantatnya kedepan dan kakinya menjepit kencang tubuhku, sementara tubuhnya didoyongkan ke belakang agar dia bisa melakukan dorongan yang lebih kuat.
“Den Antoooonn…..sayaaang…. aaach….!”, Lasmi melenguh nikmat berkepanjangan.
Aku mencoba menahan dorongannya, namun dampaknya genjotanku menjadi kurang leluasa. Aku berusaha berkonsentrasi agar aku juga bisa segera mencapai klimaks. Beruntung jepitan kuat vagina Lasmi mendorongku mencapai orgasme.
“Lasmi sayang….Lasmi sayaang… Oooch…!”, aku mengerang. Kali ini aku mendorong kuat-kuat peniku ke dalam vegi Lasmi agar bisa lebih menikmati kepuasaan puncak.
“Crut.. crut.. crutt…!”, nampaknya peniku mengeluarkan cairan yang cukup banyak dalam vegi Lasmi. Kami saling mendorong sampai akhirnya kami lemas.
Tubuh Lasmi masih dalam posisi tertahan di lenganku dan peniku walau dalam kondisi lemas namun masih terbenam dalam vegi Lasmi. Kuturunkan kaki Lasmi dengan perlahan dan peniku dengan sendirinya tercabut.
Kutatap wajah Lasmi dan Lasmipun menatapku dengan pancaran kepuasan di matanya.
“Aden…. tadi yang Lasmi rasakan itu apa sih..?”, Lasmi bertanya penasaran.
“Kalau kata buku tadi itu yang dinamakan orgasme… yaitu puncak nikmatnya orang gituan…. “, kataku sedikit menjelaskan.
“Ooh…..!”, kata Lasmi sepertinya mulai paham.
Aku kemudian balik bertanya, “Emang waktu dulu kalau Lasmi maen nggak kerasa orgasme….!”
“Nggak den, soalnya nggak pernah lama kayak tadi maennya. Abah mah peltu……”, jawab Lasmi.
“Apa itu peltu…?”, tanyaku penasaran.
“Masa sih nggak tahu…. peltu itu singkatan dari baru nempel udah metu…”
“Dasar kamu…..!”, kataku sambil menjawil dagunya. Aku merasa gemas dengannya, maka kucium bibirnya, matanya, hidungnya bertubi-tubi hingga dia cekikikan kegelian.
“Lasmi nggak nyesel dengan yang tadi aku lakukan, kan ?”
Lasmi tidak menjawab, dia hanya menggeleng, menatapku sayang, memeluk dan menciumku dengan mesra.
“Mau lagi….?”, tanyaku.
Lasmi mendekatkan mulutnya ke kupingku, kemudian berbisik.
“Buat aden, kapan aja Lasmi mau……!”
Aku dan Lasmi berpagutan dan kubawa dia ke tempat tidurku untuk bercinta lagi dalam berbagai posisi sebelum akhirnya kami mandi bareng.
Sejak saat itu setiap aku punya hasrat alias mupeng selalu tercurahkan, karena aku dan Lasmi selalu bercinta secara rutin. Kadang-kadang di kamarku, di kamar Lasmi, bahkan kami pernah melakukannya di dapur. Lasmi tak pernah ragu kapan kami harus bercinta, bahkan dia tak ragu lagi untuk meminta atau memulai bercinta. Ah Lasmiku……
Incoming search terms:
- cerita sex tante lusi (27)
- cerita tante lusi (23)
- ngentot tante lusi (22)
- Cerita ngentot tante lusi (22)
- Pembantuku pelayanku (16)
- cerita tanteku sayang (6)
- tante lusi sex (4)
- cerita ngentot lusi (4)
- Cerita ngentot tanteku sayang (3)
- cerita hot tante lusi (3)
Related posts:







