First Kiss: Where Everything Start
Sudah hampir jam 11 pagi, aku berjalan cepat dan sesekali berlari-lari kecil. Sudah telat hampir setengah jam… Aku menaiki eskalator, berusaha mempercepat langkah. Akhirnya sampai juga di lantai dua. Langsung belok ke arah kanan sambil celingak-celinguk mencari keberadaannya. Mataku menangkap satu sosok yang sedang duduk di pojok sambil merokok. Seperti biasa, dia dengan kaos berkerah, celana pendek, dan sepatu pantofelnya. Dia tersenyum simpul melihat aku yang tergesa-gesa menghampirinya.
“Maaf yah… Tadi nunggu angkotnya lama…” ucapku sambil duduk disampingnya, “kamu udah lama?”
“Yah lumayan sih… tapi gak apa-apa kok.” Jawabnya, “kamu deketan sini dong….”
Aku pun merapatkan diriku padanya. Tak lama, dia merangkulkan tangannya ke pinggangku. “Aku kangen sama kamu.” bisiknya sambil berusaha mencium pipiku. Wajahku rasanya panas sekali. Rasanya bercampur antara malu tapi juga senang dan tersanjung. Sekalipun saat itu sedang tidak ada tamu lain di kafe tersebut, tapi ada beberapa pegawai walaupun posisi mereka sedang tidak melihat kami. Tak lama setelah itu, ada beberapa tamu yang masuk. Situasinya jadi kurang nyaman untuk dia. Setelah itu dia ajak aku pindah tempat. Selesai membayar minuman yang dipesan, kami menuju basement tempat dia memarkir mobil.
Mesin sudah dinyalakan, tapi kenapa belum jalan juga. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati. “Say, aku boleh cium kamu ga?” tanya dia. Sejujurnya aku bingung, tumben dia minta ijin. Hehehe…. Abis biasanya dia langsung aja sih cium kening atau pipiku. “Boleh yah… 1 kali aja…” rengeknya. Aku makin bingung.
Ragu-ragu aku jawab, “boleh…” Setelah aku jawab dia mencondongkan badannya ke depan tubuhku. Aku sedikit panik dalam hati bertanya-tanya kenapa dia ke depanku. Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan bibirnya sudah menempel di bibirku. Aku kaget! Aku Cuma bisa diam dan melotot… bibirnya mulai melumat bibir bawahku dan aku masih terdiam karena belum terlepas dari rasa kagetku. That was my first kiss!!! Lucunya yang muncul di pikiranku adalah,”oooohhhh jadi kaya gini rasanya ciuman bibir…. Basah yah… Aneh ah…”
Cukup lama dia melumat bibirku sampai akhirnya dilepaskannya. Aku bisa mendengar nafas kami yang memburu. Aku berusaha untuk melepaskan rasa kagetku. Belum hilang rasa kagetku, dia kembali melumat bibirku. Rasanya pengen ngomong, “tadi kan janjinya cuma satu kaliiiiiiii….”. Apa daya, bibirku terkunci oleh bibirnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menikmati ciuman itu. Kupejamkan mataku dan membayangkan adegan-adegan ciuman di film-film yang pernah aku tonton. Berdasarkan adegan yang aku ingat, aku berusaha membalas ciumannya. Bibir kami saling melumat. Ketika bibirku sedikit terbuka, dia menyelipkan lidahnya. Aku kehilangan waktu, tak sadar sudah berapa lama kami ciuman.
Jantungku semakin berdegup kencang saat aku ingat kalau kami masih di tempat parkir dan kemungkinan orang yg lalu lalang melihat kami sangat tinggi. Mengingat hal tersebut aku berusaha mendorong tubuhnya. Segera setelah dia melepaskan bibirnya, aku langsung berusaha mengirup udara sebanyak-banyaknya. Terbata-bata aku berucap,”udahan… itu… itu… ntar ada orang…” Dia pun bersandar di kursi pengemudi dan berusaha mengatur nafasnya.
“Kamu tega ih…! Ga bilang kalo mau cium bibir… aku kan kaget!” ucapku sambil memukul pelan lengannya, “That was my first kiss….”
“Eh? Serius? Tadi first kiss kamu?” tanyanya, “tapi udah bisa bales ciuman aku tuh. Hehehehehehehe….. “
Duuuuuuhhhh….. Rasanya malu banget….. Sepertinya darah di tubuhku naik ke kepala. Wajahku terlihat sangat merah saat aku menoleh ke kaca spion. Detak jantungku kembali berdetak cepat. Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri.
Mobil pun berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu. Berhubung dia lapar dan sedang ingin makan rawon, meluncurlah kami ke restoran yang khusus menyediakan menu rawon. Untungnya kondisi restoran tidak terlalu ramai. Kami memilih meja yang paling dekat dengan pintu keluar dan berjauhan dengan pengunjung yang lain. Makanan pun datang tak lama kemudian. Ternyata rawon yang kami pesan sangat pedas, tanpa terasa keringatku jatuh bercucuran. Saat aku fokus dengan semangkuk rawon di depanku, aku merasa ada yang mengusap peluh di dahiku. Aku sedikit mengangkat wajahku dan melihat dia dengan senyum simpulnya yang khas, tangannya mengusap peluh di wajahku dengan lembut. Aku pun membalas senyumnya.
“Makasih yah sayang.” ucapku.
“Sayang, maaf yah tadi aku ga bilang kalo tadi mau cium bibir kamu.” katanya dengan lembut tanpa menghilangkan senyumdi wajahnya.
Sedikit merajuk aku jawab,”Iya kamu nakal ah. Aku kan jadi kaget banget. Aku gak nyangka kalo kamu mau cium bibir aku.”
“Tapi… kamu suka ga aku cium?” tanya dia.
“Hhhhhmmmm….. “ gumamku sambil membayangkan saat berciuman dengannya, “Sejujurnya sih…. Aku suka dicium sama kamu.”
“Oh ya?” lanjutnya, “kalau aku cium lagi, gimana? Kamu mau?”
“Uuuummm…. Gimana yah?”jawabku ragu-ragu, “mau sih, tapi….”
“tapi apa?”
“tapi jangan di tempat umum kaya tadi yah. Kan kalo keliatan sama orang, ga enak.”
“hehehehehehe…. Oke kalo gitu…”ujarnya, “Sayang, muka kamu kok jadi merah banget sih? Hayooo…. Inget yang tadi yaaa??” Mendengar ucapannya aku hanya menunduk malu, tak tahu harus berkata apa. “Kamu kalo lagi kaya gitu, bikin aku horny deh. Adekku jadi tegang nih Yang.” lanjutnya.
“Ah bohong! Gombal banget sih kamu!” seruku, “Aku kan ga ngapa-ngapain kamu. Masa’ bisa tegang.”
“Ih, serius. Tegang banget nih. Kalo ga percaya kamu pegang aja nih.” ucapnya, “hehehehehehe…. Atau kamu mau liat?”
“Apaan sih ah…”
“Lho? Kan waktu itu kamu pernah bilang mau liat penis cowok. Kamu boleh kok liat punya aku. Mau pegang juga ga apa-apa”
“Iiiihhh…. udah ah… Mesum deh kamu…” balasku, “lagian itu kan aku cuma asal ngomong. Jangan mikir yang macem-macem deh.”
“Beneran juga ga apa-apa. Buat kamu apa sih yang enggak. Mau kamu mainin juga silahkan.” katanya sambil tertawa, “Aku ga mikir macem-macem, cuma satu macem aja kok. Hahahahahaha….”
Ucapannya membuat pikiranku melayang-layang dan membangkitkan rasa penasaranku. Satu sisi aku ingin tahu seperti apa bentuk penis lelaki dewasa, proses perubahan dari lemas ke tegang, seperti apa rasanya memegang atau bahkan memasukkannya ke mulut seperti adegan yang biasa muncul di film porno. Selama ini aku melihat penis hanya dalam buku pelajaran atau film porno. Sekalipun di buku dijelaskan bagaimana proses ereksi, tapi aku belum menemukan adegan seperti itu di film porno yang aku tonton. Aku jadi penasaran.
Sisi yang lain, ada perasaan takut dan malu. Bagaimana kalau nanti dia minta aku memperlihatkan tubuhku? Bagaimana kalau nanti kami terbawa suasana dan malah melakukan hubungan suami istri? Sekalipun dia bisa menahan diri, bagaimana kalau aku yang tidak bisa menahan diri? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Aku jadi dilema, antara ingin tapi juga tidak berani.
“Sayang, yuk pergi.” ucapannya membuyarkan pikiranku, “Yang, kita ke rumah aku dulu yah bentar. Mama minta tolong ambilin barang yang ketinggalan di rumah. Soalnya ga ada siapa-siapa di rumah, jadi ga ada yang bisa anterin.”
“Oh. Ya udah kalo gitu.”
Aku berusaha untuk melupakan apa yang sedang kupikirkan saat kami meninggalkan restoran. Ternyata cukup sulit menghapuskan pikiran itu. “Udah mikirnya?” tanya dia membuyarkan lamunanku.
“Apa?”
“Kalo kamu lagi kaya gitu, pasti kamu lagi mikir.” jelasnya, “Jadi… Gimana? Mau liat atau enggak?”
“Sok tahu ah! Kan belum tentu aku mikirin itu.”
“Iya juga ga apa-apa kok. Mumpung di rumah lagi ga ada orang.”
“Heh?!” aku baru ingat kalau rumahnya sedang kosong. Tiba-tiba aku jadi deg-degan.
“So?”
“Ga tau ah. Liat ntar ajah.” ucapku asal. Detak jantungku semakin cepat. Pikiranku bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti.
Incoming search terms:
- Cerita hot kiss (15)
- cerita hot kissing (13)
- CERITA KISSING (8)
- cerita kissing hot (5)
- cerita remaja gak jadi naik angkot malah ngentot (4)
- cerpen first kiss (4)
- cerita mesum cium bibir (2)
- cerita melumat (2)
- cerita kissing dewasa (2)
- Hot Kiss in bercinta (2)
No related posts.







