Lia Gadis Penjaga Toko.

Hari terasa semakin larut, sedangkan langit bertambah mendung dan menggelap sebagai tanda akan turunnya hujan. hari ini hatiku agak resah karena mas Anton yang saya tunggu2 belum juga datang menjemputku.
Nama saya Lia, saya bekerja disebuah toko milik seorang keturunan yang kaya di kota S, bos saya bernama Tek Kiu, bertubuh gendut tapi kekar, orangnya bermata sipit dan selalu melirik kearah tempat dimana aku duduk menunggu didepan rak barang.
Anton adalah pria yang sering datang ketoko membeli barang dan selalu menggoda aku, walaupun dia tidak membeli apa-apa, bahkan sesekali dia membeli pembalut wanita dan kemudian memberikannya kepadaku.
Akhirnya dia datang juga dibawah hujan rintik tepat pada pukul  21.00, tepat ketika toko mau tutup, dia langsung menuju kearahku, menatap dan berkata kalem, “Saya mau beli kondom” dengan wajah kalem, kemudian dia tertawa kecil melihat wajahku yang memerah.”memangnya buat siapa mas anton?” jawabku , “Buat kamu dong..” sahutnya langsung. Wajahku langsung memerah saat itu juga sambil mencubit tngannya yang berada diatas tanganku. Aku langsung berjalan cepat ke arah meja bosku dan mengambil tas kecilku sambil pamit untuk pulang.
Aku menarik dan menggandeng tangan anton, dan mengajaknya ke motor yang dia parkirkan didepan parkiran kami, motornya mas anton adalah motor laki, Tiger 2000, tempat duduknya licin sekali sehingga kalau lia dibonceng selalu saja terpeleset ke bawah. Hari ini anton kelihatan kalem sekali, rambutnya diklimis menarik dan senyumannya yang penuh arti seakan memiliki rencana kejutan, apa lagi hujan grimis yang membasahi wajahnya membuatnya terlihat gagah dan menggairahkan hari ini. Anton menyalakan mesin dan aku naik keatasnya, seperti biasanya dalam perjalanan saya selalu memegang ke belakang supaya tidak terpeleset kedepan tapi hari ini entah kenapa saya tidak lagi berpegangan dan membiarkan tubuhku terseret kebawah sehingga pantat kami beradu menjadi satu dan dadaku menempel erat dipunggungnya.”Ih …mas anton, kapan kapan tempat duduknya digantiin sama yang nggak licin aja, habis Lia kan cape kalo pegangan kebelakang terus”, seruku rada merengek. “sapa yang suruh pegang ke belakang ….ha ah ah” katanya sambil tertawa. Anton memang orangnya periang, dan sering tertawa bahkan terbahak jika mendengar sesuatu yang lucu. Akhirnya kuberanikan melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil mempererat tekanan didadaku, entah kenapa hari itu saya ingin sekali memeluk mas anton, terasa hangat disuasana yang gerimis dan dingin itu.
Aku kos dikota S begitu pula dengan mas anton, dia juga anak kos, bahkan kesayangan ibu kosnya sehingga tidak direlakan pindah walaupun mas anton sekarang sudah mapan kerjanya. Hari sudah larut malam, kami tiba di kos pukul 22 malam, maklum mas anton nyetirnya pelan lagi pula gerimis bikin takut tergelincir.
“Waduh kosnya mas Anton udah Dikunci nih”, katanya sambil melihat Jam tangan
Akhirnya kutawarkan untuk tidur di kosku saja, karena memang ibu kos tidak tinggal di tempat kos kami, sambil menggandeng mas anton dari parkiran ke dalam kamar kostku.
“Stt…” bisik ku ketika mas anton hendak mengucapkan kata
“Semuanya pada tidur entar tergangu ” kataku kemudian.
Kubuka kunci dan kami pun berada didalam kamar kosku yang berukuran cukup luas, tidak ada kamar mandi didalamnya akhirnya akupun berjalan dengan tubuh basah kuyub menuju lemari dan mengambil selembar handuk bersih dan melemparkannya ke arah mas anton kemudian ke ranjang dan merapikannya.
Betapa kagetnya ketika kurasakan ada dua belah tangan tiba2 mendekap pinggangku dari belakang, dan kurasakan wajahnya menempel di leberku dan mengeluarkan nafas hangat yang menyapu sela-sela telingaku. Aku hanya bisa membetulkan pakiaku sambil mendesah “mass….”.
Tanpa kusadari aku menatap ke cermin didepanku kudapatkan memang ternyata badanku telah benar2 basah kuyub sehingga bentuk tubuhku tercetak melekat pada baju menonjolkan payudaraku yang berukuran 34B  dan mancung kedepan.
Tiba tiba pula dia mengangkat tubuhku sehingga bisa kulihat cahaya matanya yang berkilat dengan butiran2 air yang ada diwajahnya, benar-benar mempesona dan membiusku sehinga aku tidak memberotak sedikitpun ketika dia mulai membawa dan membaringkanku diatas ranjang kamarku. Dia berdiri sambil menatapku sedangkan tangannya telah berusaha membuka kancing kemeja yang kugunakan, tangan kirinya membelai pipiku dan sesekali menyingkirkan ranbutku yang sepanjang bahu dari leherku.
Akhirnya ketakberdayaanku semakin membuat dia berani menurunkan wajahnya dan mengecup lembut bibirku, kemudian menciumi leherku membuat tubuhku mengelinjang pasrah. Dan setelah beberapa saat tanpa kusadari dia telah berhasil melepaskan kancing kemejaku dan kemudian terasa tangannya masuk kedalam baju dalamku dari arah pusar membuka keatas baju dalam yang kugunakan sampai keleherku dan kemudian dia meremas-remas kedua payu daraku sambil terus menjelajahi permukaan leherku membuat darahku berdesir kencang dan panas mengalir disekitar kemaluanku.
“eh………..hhhh…..”, desahku yang disambut dengan kuluman bibir mas anton.
Tak terasa basah sudah seluruh tubuhku menahan gejolak dari rangsangan mas anton, sedang kakiku sudah tidak tahan saling menggesek-gesekkan untuk menenangkan gejolak pada bagian vaginaku yang terasa sedikit gatal dan jengah karena tidak disentuh sedikitpun olehnya.
Sampai akhirnya terasa sebuah tangan kekar menyelusup diantara celana dalamku dan menggesek-gesekkan vaginaku dengan lembut, sementara dia melepaskan pangutan dibibirku membuat lenguhan ku kini bisa terdengar
“Oh…..”, teriakku kecil begitu tangan kekar itu berhasil menemukan tonjolan kecil klitorisku. Terasa ingin melonjak begitu kemaluanku yang dari tadi dianak tirikan kini akhirnya terjamah juga oleh tangan mas Anton.
“Mas …. ” bisikku sambil memegang erat tangannya sembil menatap wajahnya,
“Ouww……”, teriakku begitu dia menggesek keras dibibir vaginaku, kucubit kecil tangannya sambil menatap wajahnya yang menatap pandangan pasrah wajahku, tak terasa BHku terlah terlepas dan mulutnya sekarang bergantian mengulum kedua payu daraku, dan terus menerus merangsangnya dengan menggigit-gigit kecil di ujungnya, membuat pinggangku turun naik melengkung menerima rasa geli yang sangat, sampai akhirnya kekagetanku terkuak begitu kurasakan aliran darahku semakin mendesir desir dikepalaku dan lagi kulihat di cermin pemandangan mas anton sedang mengocok sendiri penisnya sambil terus merangsang vagina dan mengulum payu daraku.
“Aduh massss……..hhhmmm”, aku sudah tidak tahan lagi seakan mau meradang seluruh tubuhku.
mataku terbelalak begitu mendadak kurasakan dua buah jari mas anton masuk keliang vaginaku dengan cepat, membuat aliran darahku terhenti sejenak menjawab kegelisahanku sedari tadi.
“masukiinn .mass …” jawabku pasrah atas pebuatan mas anton itu, sementara mas anton menurunkan rok ku dan menurunkan celana dalam sampai lutut, dia bergerak naik keatas ranjang kami, kulihat penis mas anton sekitar 16 cm dengan dia meter 2 ukuran ibu jari, dia mengarahkan pada vaginaku yang telah banjir dan memerah itu, sambil memandang kearahku, aku hanya menutupkan mataku sambil merasakan detik2 benda panjang itu mulai memasuki gerbang kewanitaanku, merangsek maju perlahan memenuhi sekuruh rongga udara dan memompa udara dalam vaginaku terus menuju kedalah rahimku, sampai….
“Ohhh……….teruuss mass…”, bisikkku merasakan vaginaku telah dipenuhi oleh penis mas anton dan menjadi semakin gerah saja.
“hhh. ….” suaraku berulang dengan maju mundurnya penis mas anton, terus meracau sambil menutup kedua mulutku supaya tidak membangunkan tetangga kos.
“ohh………hhmmmm…….hsss….”, desisan ku tidak kuat dengan hentakan-hentakan penis mas anton yang semakin cepat sampai akhirnya aku …………
“aduuuhh …mass…………..oooooohhhhhhh….”, aku bangkit memeluk mas anton dan kakiku bergerak ingin melingkarkan ke pinggang mas anton meminta dia menghentikan genjotannya tapi tertahan oleh rok yang memang sampai dilututku, aku menggelinjang kian kemari, kepalaku tak kuasa menahan aliran kenikmatan itu sampai menggeleng tak tentu arah. Aku orgasme terlebih dahulu dari mas anton,
“Maaf mas”, kataku begitu terlepas dari rasa kecamuk diseluruh tubuhku, seprai ranjangku terlihat basah pada bagian bawah kelaminku mengalir cairan orgasmeku, terasa geli kemaluan mas anton di vaginaku, sampai akhirnya aku mengambil inisiatif untuk melepaskannya dari kemaluanku sambil berbisik, mas biar lisa kosokin ya, kataku sambil mengocok keras penis mas anton, terus sampai dia melenguh tak tertahankan, kutarik mangkuk kecil diatas meja riasku dan kutaruh didepan menyambut semprotan cairan sperma yang keluar berulang-ulang dari penisnya.
Akhirnya mas anton dan saya tertidur pulas sambil berpelukan, tentu saja dengan keadaan terakhir kami, rok dan celana dalamkupun masih tetap dilututku sedang baju dalamku telah turun menutupi kembali payu daraku.
Ini memang bukan ML ku dengan anton yang pertama, akan tetapi malam itu adalah peristiwa yang terindah yang saya alami sampai sekarang, dibalik dinginnya gerimis kota dan hentakan2 mas anton yang perkasa membuaiku sampai ke negeri awan. Keesokan harinya terlihat sepreiku bebercak besar air kenikmatan yang kami buat dikemaluanku semalam.